Skip to main content

Posts

[REVIEW] Transformers : The Last Knight

Dari hari pertama rilis dan pengalamn dari film-silm sbeelumnya, memang sebaiknya tidak usah ekspektasi tinggi-tinggi untuk film ini. Tapi, saya tidak menyangka kalau film yang dirilis dengan promo gila-gilaan seperti ini justru hasilnya hancur sehancur-hancurnya. Masih teringat pertama kali saya nonton Transformers pertama di tahun 2009, efek dan cerita yang sangat fresh menjadikan franchise ini sangat sukses dan menaikkan penjualan mainan hingga dibuat arena sendiri di universal studio. Sekarang, mendengar kata Transformer justru terbayang cerita tak karuan, full ledakan dan rating hancur.

Baiklah, jadi di film ini bercerita tentang ..... HA ! Saya lupa ! Intinya sama seperti seri sebelumnya, Autorobot dimusuhi oleh militer, Militer menyerang Autorobot, muncul Megatron, Bee dan Optimus Prime menjadi aktor utama, ledakan dimana-mana dan manusia kecil berlarian dengan sengaja di antara para robot. Sepanjang film banyak sekali plot hole dimana-mana dan makin dipikirkan "ini apaan…

[REVIEW] Silent Voice (2016)

Animasi Jepang memang banyak yang bikin baper. Setelah Your Name, dan masih mengambil setting remaja SMA, Silent Voice kembali membuat penonton terenyuh dengan ceritanya.

Shouko Nishimiya adalah murid SD baru dan seorang tuna rungu. Di sekolahnya, dia ditidas oleh Shouya Ishida hingga karena suatu kejadian, Shouko harus pindah sekolah. Setelah kejadian itu, semua murid menyalahkan Shouya dan semua hal yang pernah dia lakukan berbalik kepadanya. Setelah SMA, Shouya menjadi penyendiri dan kesepian. Setelah bertemu kembali dengan Shouko, Shouya mulai memperbaiki hubungannya dengan orang sekitar dan menebus rasa bersalahnya kepada Shouko

Kyoto Animation sebagai rumah produksi film ini menyuguhkan artwork uang indah dan cerita yang bagus. Animasi film ini mengingatkan kepada TV series K-ON. Pendalaman karakter di sini cukup dalam sehingga kita bisa merasakan cerita ini lebih dalam termasuk para karakter pendukungnya. Shouko merupakan tipikal wanita lembut yang akan membuat kita terus simp…

[REVIEW] Florence Foster Jenkins (2016)

Tidak ada yang bisa membatasi mimpi termasuk suara yang jelek. Diangkat dari kisah nyata mengenai sosialita berhati tulus yang ingin menjadi penyanyi opera, film ini menawarkan genre musical dengan gaya yang baru.

Jika film musical biasa seperti Pitch Perfect dan Sing Street kita selalu disuguhkan lagu-lagu asik serta suara dari para pemain yang indah, lain halnya dengan film ini. Suara Meryl Streep yang biasa kita dengan di film seperti Mamma Mia sangat bagus, kali ini keterlaluan buruknya. Dia mampu memerankan Florence yang memiliki suara hancur namun memiliki hati yang baik serta kondisi fisik yang rapuh. Orang-orang di sekitarnya selalu berusaha memperlakukannya dengan baik dan terus berbohong mengenai suaranya untuk mendapatkan keuntungan. Mungkin peran ini salah satu perannya yang cukup mudah terlupakan tapi namanya juga Meryl Streep, dia pasti akan dengan mudah masuk nominasi Oscar.

Film ini juga merupakan momentum kembalinya Hugh Grant ke industri film. Aktor yang terkenal de…

[REVIEW] Wonder Woman (2017)

Setelah 10 tahun lebih, akhirnya Superhero wanita memiliki film sendiri dan hasilnya di luar perkiraan sangat bagus. Selama ini film superhero didominasi oleh superhero pria dan kali ini giliran superhero wanita menunjukkan kekuatannya.

Film- film DC Universe yang sejauh ini selalu mendapat review buruk mendadak diberi review sangat tinggi oleh rotten tomatoes yaitu 97%. Tentu hasil itu setimpal dengan isi film ini.
Film dibuka dengan setting modern saat Diana menerima foto waktu dia sedang perang bersama Steve Trevor dan setelah itu cerita dimulai. Diana mengenang masa lalunya sebagai suku Amazon dan pendapatnya tentang manusia.

Tanpa mengurangi ciri khas DC yang gelap, film ini menyuguhkan humor-humor ringan dan jalan cerita yang simpel. Walaupun durasi film ini 2 jam 20 menit, kita tidak akan merasa bosan saking serunya tidak seperti Batman V Superman. Action film ini juga ditampilkan dengan bagus oleh Gal Gadot dan masih dengan ciri banyaknya slow motion dan ledakan dimana-mana. …

[REVIEW] Get Out (2017)

Apa jadinya jika kamu diajak ketemu orang tua pacarmu, dan bukannya menjadi akrab justu nyawamu terancam. Kira-kira begitulah inti film ini.

Get Out merupakan film horror dengan ide fresh yang beda dengan film horror lainnya. Film ini menggabungkan issue rasisme, issue yang sedang gencar saat ini, dan psikologi thriller. Tidak ada hantu atau zombie di film ini, hanya ada manusia rasis yang justru jauh lebih mengerikan karena kita memiliki chance besar bertemu merek di dunia nyata.

Get Out dibuka dengan scene yang sangat kekeluargaaan dan atmosfir yang menyenangkan. Tapi lihat setelah 20 menit kemudian. Muncul teror-teror yang menyiksa secara psikologi dan ditutup dengan climax yang bikin kita deg-deg an.

Film ini tidak memiliki twist ending yang mengangetkan. Saya rasa kita sebagai penonton sudah bisa memprediksikan apayang terjadi dari pertengahan film. Namun cerita dan cinematografi yang disajikan menjadi kekuatan film ini. Jika ditelusuri lebih dalam, banyak subtle message di film…

[REVIEW] King Arthur : Legend of The Sword

Guy Ritchie yang terkenal membuat film-film gangster mendadak menjadi sutrdara film kolosal. Guess what ? Hasilnya menjadi Lord of The Rings rasa Snatch. Ciri khas Guy Ritchie dengan alur flash back/forward dan para karakter yang berasal dari middle class guy tentu masih ada. Sulit dipercaya kalau asal mula Legend British ini dari jalanan.

King Arthur merupakan cerita setting mediaval dengan dialog menghibur dan ada selipan humor. Charlie Hunam merupakan pilihan tepat (tentu selain wajahnya yang tampan). Jude Law kembali berkolaborasi di film Guy Ritchie setelah film Sherlock Holems dan sekuelnya. Akting para aktor dan aktris di sini cukup mampu menunjang pemeran lainnya. Untuk efek CGI, yah budget USD 175 Million kalau masih murahan ya kebangetan.

Sayang sekali film ini termasuk box office flop padahal jika biasanya genre kolosal disajikan dengan serius, film ini menceritakannya secara santai dan menghibur. FIlm ini juga menjual nama besar Guy Ritchie, Charlie Hunam dan Jude Law. Mu…

[REVIEW] Alien : Covenant (2017)

Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya sekuel Promotheus dibuat dan langsung berhubungan dengan franchise kesayangan kita yakni ALIEN.

Bisa dibilang Alien salah satu franchise horror sci-fi lintas generasi (selain Predator) yang paling terkenal dan di film-film lainnya mendapat review bagus dari para krtikus dan penghasilan box office yang gila-gilaan. Sesuai posternya, akan ada banyak alien. Yep semua yang penonton harapkan akan muncul semua
1. Alien yang muncrat dari perut manusia
2. Alien kecil menjadi liar
3. Manusia ditemplokin inang Alien
4. Emak Alien yang gede dan beringas
5. Banyak Kru mati
6. Ending yang bikin kita bengong dan membuka peluang untuk sekuel

Bagi penggemar Alien jaman dulu yang penuh aksi, film ini sangat memuaskan dan seru. Berhubung sutrdaranya nya sama, Ridley Scott, selalu ada ciri khas ketegangan dan score yang membuat kita menutup kuping ketakutan. Template film ini pun hampir sama dengan plot film pertama di tahun 1979 yang dibintangi oleh legen…