Skip to main content

[REVIEW] Inside Out (2015)

Inside Out (2015 film) poster.jpg
via : wikipedia
Pixar kembali membuat film animasi yang menyentuh setelah Toy Story 3 yang sukses membuat saya menangis.


Sinopsis :

Riley, seorang anak berumur 11 tahun yang ceria dan gemar bermain hockey. Seluruh kehidupannya dikendalikan oleh 5 emosi yaitu Joy, Sad, Fear, Anger dan Disgust. Tugas mereka adalah menjaga Riley agar tetap bahagia. Suatu hari, Riley dan keluarganya harus pindah ke San Francisco dan segala hal menjadi berbeda. Di dalam kepala Riley, Sad dan Joy tersesat di dalam pikiran Riley dan mereka harus kembali ke Headquarters agar Riley kembali menjadi gadis yang ceria.


Ok pertama, jangan terlambat masuk bioskop karena ada film pendek berjudul lava. Film ini bertema musical dan sangat bagus. Cerita dan lagunya digarap dengan sempurna. oke selesai dengan film pendek, mari beralih ke Inside Out


Okay, dilihat dari unsur grafis, tentu animator Hollywood saat ini berlomba-lomba menyajikan animasi yang realis dan Inside Out berhasil melakukannya. Nama Pixar tidak usah diragukan lagi mengingat mereka telah membuat Toy Story, Up, Wall-e, Monster Inc, dll (Lihat trailer Inside Out). Pixar semakin mengembangkan teknologi animasinya. 


Inside out memiliki cerita yang fresh dan berbeda. Menurut saya tema Inside Out sedikit kurang cocok untuk anak kecil karena tema ini mengenai pikiran anak yang akan beranjak remaja beserta dengan konflik yang dialami. Cerita ini mungkin akan lebih dipahami untuk anak di atas 13 tahun.

Pixar seperti film sebelumnya, dapat membuat kita tertawa, tegang dan tak lupa menangis. Seperti yang telah saya bilang, saya menangis menonton film ini sama seperti saat menonton Toy Story. Damn you Pixar !


Saya memprediksi bahwa film ini akan memenangkan Oscar untuk best animated movie namun sayang sekali film ini tidak memiliki OST yang menarik seperti Let It Go dari Frozen


My Rating

91%

Comments

Popular posts from this blog

[REVIEW] 47 Meters Down (2017)

via : wikipedia Dengan banyaknya film yang rilis pada musim panas, 47 Meters Down bisa dibilang kuda hitam dan tidak disangka menerima ulasan dan penghasilan yang bisa dibilang tidak buruk. Hal ini bisa dibilang cukup baik mengingat budget film ini tentu tidak spektakuler seperti Transformer atau Spiderman. Genre film ini adalah horor survival yang idenya sendiri mirip-mirip dengan The Shallows  yang dibintangi oleh Blake Lively, sama-sama melibatkan hiu dan perjuangan untuk selamat. Walaupun sama-sama di laut, setidaknya Blake Lively bisa bernafas bebas dengan oksigen dan para karakter di 47 Meters Down harus menghadapi hiu, kedalamn laut yang membahayakan dan tentunya oksigen yang terbatas. Untuk sinopsis, agaknya sudah cukup jelas tentang apa film ini dari posternya. Film ini dibintangi oleh Mandy Moore dan Claire Holt. Walaupun mereka memakai alat menyelam dan ekspresi wajah mereka tidak ditampilkan, akting mereka bisa dibilang keren walau hanya bermodalkan dialog yang...

[REVIEW] Spider-Man : Homecoming (2017)

via : wikipedia Lihat poster itu, berantakan, kan ? Seolah-olah para tokoh ditumpuk sembarangan dan kenapa muka Robert Downey sangat besar dan ada Iron Man yang hampir mendominasi poster ? Seolah-olah Marvel tidak PD kalau film ini akan bagus secara critical atau secara komersial. Sama seperti ekspektasi saya saat pertama kali melihat trailer film ini Tapi ternyata film ini jauh melampaui ekspektasi saya. Film dibuka oleh Vlog ala Spiderman saat bertarung di Civil War kemudian lompat ke beberapa bulan saat Peter Parker kembali ke kehidupan remajanya. Spiderman yang kembali ke Marvel menyerap semua ciri khas film Marvel yaitu fun dan humor. Humor di sini mengingatkan kita pada jokes di Ant-Man dan Guardian of Galaxy. Untunglah tidak diceritakan ulang mengenai asal usul Spiderman dan kematian Uncle Ben yang bisa-bisa membuat kita bosan akan cerita klasik itu yang sudah diulang berkali-kali, justru Aunt May yang sangat cantik menjadi salah satu pusat perhatian di film ini. Jelas ...

[REVIEW] Hidden Figures (2016)

via : wikipedia Diangkat dari kisah nyata, 3 orang wanita kulit hitam yang bekerja di NASA dan memiliki kunci penting dalam perkembangan proyek luar angkasa. Mereka tidak hanya harus bertarung dengan warna kulit putih, namun juga bertarung dengan banyaknya pria kulit putih yang mendominasi NASA. Taraji P Henson yang biasa kita lihat keren di Empire  berubah drastis menjadi seorang nerd yang ambisius. Cerita film ini tidak hanya berpusat kepada Katherine Johnson yang diperankan Taraji P Henson, namun juga kedua temannya Dorothy Vaughan yang diperankan Octavia Spencer dan juga Mary Jackson yang diperankan Janelle Monae. Mereka bertiga mampu emmerankan wanita yang cerdas dan tidak bergantung pada pria. Banyak isu rasisme dan feminisme yang diangkat di film ini.Film ini menggambarkan betapa kejamnya perlakuan diskriminasi kepada kamu kulit hitam (pemisahan tempat duduk, toilet dan hak pendidikan). Kamu wanita juga dianggap hanya akan bekerja di dapur dan tidak berhak memiliki ...